Warga KAPIN Area '93
Petualangan mas Wahyu - Printable Version

+- Warga KAPIN Area '93 (https://www.alumnikapin93.com)
+-- Forum: Go to XKapin93 (https://www.alumnikapin93.com/forumdisplay.php?fid=1)
+--- Forum: Cerita dan Berita (https://www.alumnikapin93.com/forumdisplay.php?fid=2)
+--- Thread: Petualangan mas Wahyu (/showthread.php?tid=3)



Petualangan mas Wahyu - hansipmin - 02-07-2019

Cerita ini diambil dari kisah saya, sang penulis, bersama Wahyu, alumnus KAPINERS’93 yang pernah bekerja di salah satu perusahaan traksportasi taksi terbesar di Indonesia. Langsung aja, ini cerita Wahyu.. (beberapa nama dibikin palsu, supaya tidak bikin masalah)

[Image: 10452431_708500662587413_18400896143148920s34_n.jpg]

Baju yang dikenakannya singlet putih, kemudian celananya kolor sport. Super duper pendek! Kakinya mulus, jenjang, dan putih bersih. Dia angkat kaki mulusnya ke atas meja rias, seraya membaca majalah. Dia tampak seperti sedang duduk ongkang-ongkangan, pamer kaki mulus. Sepertinya dia belum ngeh, ada datang tamu tiba-tiba datang. Benar saja, dia kaget dan langsung menurunkan kakinya dari meja rias. Cukup terkejut rupanya dia, mengetahui ada orang asing datang. Ditengoknya Mas Erwin sedang bawa tamu.

“Ayo Mas, masuklah. Nggak apa, jangan sungkan. Saya kan orang dalam,” kata Erwin kepada sang tamu.

Di salon yang lokasinya di sekitaran Jl. Blora, Jakarta Pusat itu, berkumpul orang-orang berwajah jelita dengan tubuh langsing, tinggi, berpakaian cukup seronok. Kaos singlet tanpa lengan, memperjelas ukuran buah dada mereka yang pada umumnya ‘mentereng’ bentuknya. Celana pendek nan ketat juga menampakkan kaki mereka yang langsing dan jenjang. Ya Tuhan, ini ada apa orang-orang cantik pada berkumpul di sini?

Ruangan utama salon eksklusif itu sempat membuat suasana sejenak hening dari keramaian canda dan obrolan di antara mereka, gara-gara kedatangan orang asing. Termasuk Diana, si pemilik kaki jenjang yang terkejut itu. Ekspresi wajah-wajah mereka macam-macam. Ada yang tak bersahabat dengan sorotan mata yang tajam dan penasaran, ada pula yang memandang biasa saja sambil memberikan senyum simpul, dan ada yang hanya memandang sesaat, kemudian cuek dan kembali dengan apa yang dilakukannya.

Adapun Erwin adalah semacam liaison bagi seseorang yang hendak mewawancarai orang-orang di dalam salon sekaligus tempat kost itu. Salon dan kost-an khusus waria alias wadam alias bencong alias sekong atau apalah bahasanya, terletak di sekitaran di Gang Mayong, Jakarta Pusat. Erwin saat itu sedang membawa masuk seorang jurnalis surat kabar terkemuka di Indonesia, yang tak lain adalah penulis cerita ini, alias gue.

Big Grin

Oke, sebelum jauh bercerita, awal ceritanya ceritanya begini. Saat itu gue sedang dalam tugas jurnalistik. Seperti jurnalis media cetak pada umumnya, gue biasanya mengendarai sepeda motor untuk kegiatan meliput. “Tapi hari ini gue nggak naik motor Yu, karena liputan gue hari ini khusus. Jadi ada biaya khusus dari kantor untuk urusan peliputan ini. Makanya gue pilih naik taksi saja. Taksinya mas Wahyu hehe..,” kata gue.

Di sepanjang perjalanan menuju salon tersebut, yaitu dari Stasiun Cikini, gue cukup banyak bercerita tentang pengalaman gue selama menjadi wartawan investigasi. Gue sendiri sudah terbiasa meliput peristiwa kontroversial, dari bidang politik, sosial, budaya, hingga kriminal dari tahun 2004.

“Yu, kita sudah sampai. Lo ikut gue ya, tadi gue sudah bilang ke mereka (penghuni salon Blora, red) kalau gue bersama sopir taksi dan kata mereka, mereka nggak masalah. Jadi nanti gue pulang ke kantor pakai taksi lo lagi. Lagipula sudah biasa toh? Sopir taksi nganter bencong kemari?” ujar gue sambil nyengir. Wahyu pun ikut gue, sambil sedikit berpetualang senja. “Taksinya, diparkir dulu aja di ruko Jalan Blora itu Yu,” suruh gue ke Wahyu.

Turun dari taksi, tampak seorang bertubuh kurus agak pendek, berwajah tirus. Tak lain dan tak bukan, dialah Erwin. Kemudian Erwin memberi aba-aba agar mengikutinya. Setelah berjalan belasukan ke kiri ke kanan sampailah ke Gang Mayong, tepat di sebuah rumah berlantai dua dengan pagar setinggi sekitar 1,3 meter. Disitulah salon tersebut berada, seperti awal cerita tadi.

Erwin pun minta gue membuntuti langkahnya dari belakang, masuk ke ruangan utama salon. Disitulah akhirnya manusia-manusia seksi (ingat, mereka pada dasarnya adalah lelaki) berkumpul. Dengan gayanya yang beraneka macam, ada yang sedang ngangkang, ada yang sedang bercanda cubit-cubitan, ada yang merokok sambil garuk-garuk anunya, dan sebagainya.

Mereka sempat sedikit terkejut dengan kedatangan rombongan gue, meski ada Erwin. Tapi kan ada Wahyu sama gue, ini yang bikin mereka agak sinis. Namun kemudian suasana kembali normal. Gue masih membuntuti Erwin menuju koridor di sudut ruangan salon yang selebar 1,5 meter.

Singkat cerita, samping koridor itu adalah kamar-kamar yang pintunya tertutup. Ada tiga kamar di koridor itu. Namun semakin jauh ke dalam, koridor itu semakin gelap karena cahaya lampu yang remang. Sampai di ujung koridor, ada sebuah pintu yang menghubungkan ke ruangan, entah ruangan apa.

Gue, Erwin, dan si kunyuk Wahyu pun sampai di ujung koridor. Erwin membuka pintu dan mereka pun masuk ke dalamnya. Tiba-tiba salah satu pintu dari kamar-kamar yang berjejer di koridor itu terbuka. Keluarlah seseorang dengan payudara berukuran cukup ideal dari postur tubuhnya. Dia hanya mengenakan celana kolor sport, dan berbaju singlet tipis sehingga puting payudaranya nampak! Dia menggeliat seperti baru saja bangun tidur, “Anjrit, panas banget deh hari ini,” cetus orang itu dengan suara tak ubahnya seperti lelaki. Ya memang, karena pada dasarnya khan dia lelaki.

Dan seperti laiknya lelaki, di rumah pakai baju singlet, kadang malah tidak berbaju alias telanjang dada, ya wajar saja, naluri lelaki. Namun kini kondisinya khan sudah berbeda? Tubuh dan penampilan dia sudah dipermak laiknya perempuan ting-ting. Sehingga ketika berpenampilan begitu, jadilah pemandangan yang luar biasa. “Woi, bego! Ada sopir teksong tuh,” celetuk Erwin.

[Image: aline1.jpg]

Kontan si ‘nona’ manis itu berteriak kaget, “Aaiiih, mau ngapain tuh sopir taksi disini?” Suaranya jadi mengecil, tak seperti ketika pertama dia mencetus usai keluar dari kamarnya. Dia langsung menutupi payudara jadi-jadiannya itu. Gue dan Wahyu menahan ketawa, jaga perasaan dia.

“Mas Win, lo nganterin si cowok-cowok cakep ini? Siapa dia?”

“Wartawan bo’.”

“Oh wartawan? Wartawan mana dia?”

“Nggak tau bo’, dia nggak bilang dari mana.”

“Oke.. Tapi itu sopir taksi suruh keluar dah, risih gue liat dia.”

Si Wahyu juga takut disuruh keluar dari ruangan itu, karena dia juga bingung mau nunggu dimana? Di suruh nunggu di ruang utama salon, banyak waria yang tadi menyambut. “Ngeri gue digodain Nggi!.” Aiihhh, Wahyu ternyata jiper. Akhirnya gue menjelaskan sejelasnya bahwa Wahyu itu sebenarnya bukan siapa-siapa tapi teman SMP gue. Dan dengan agak berat hati, si waria seksi itu menerima.

[Image: aline2k.jpg]

Sekitar 20 menit wawancara gue, Erwin, Wahyu keluar. Sampai ke ruang utama salon, di depan, ada waria senior! Soalnya, dia tampak lebih tua diantara waria lainnya yang ada di ruangan utama. Mereka tertawa sambil berbasa-basi. “Halo, ngopi sini bos,” kata si senior. Gue sama Wahyu cuma senyum sambil pamitan.

Erwin pun mengantar hingga ke Jalan Blora tapi tidak sampai ke taksi.

“Oh jadi nanti liputan ini untuk ditulis di koran?” kata Wahyu.

“Iyalah.”

“Tentang apanya?”

“Ini kan sedang ramai soal LGBT. Kita mencoba untuk bikin tulisan yang mengangkat hal-hal unik dari kaum homoseks.”

“LGBT? Apaan tuh?”

“LGBT itu kepanjangan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Lo pahamlah maksudnya.”

“Oh iya. Ya, gue ngerti dah.”

“Dari sini, gue masih ada tugas meliput lagi. Tapi beda kaum.”

“Beda kaum? Mau meliput yang ceweknya ya?”

“Betul, gue mau meliput dari sisi kaum lesbian di daerah Jakarta Barat.”

“Dimana tuh? Jakarta Barat mana?”

“Ada deh. Di daerah Tambora dan sekitarnya.”

“Oh gitu..”

Pertemuan dengan Wahyu pun berakhir di Stasiun Manggarai.

Ya begitulah. Cerita ini hanya salah satu dari begitu banyak penumpang taksi yang memberikan sepotong kisah. Namun cerita ini masih biasa saja. Wahyu masih punya kisah-kisah yang lebih unik dari penumpang lainnya.

Nantikan cerita Wahyu lainnya ya..